
DI HABITAT aslinya, tanaman pemangsa populasinya terus menurun, ditengarai akibat eksploitasi komersial dan kerusakan hutan, sehingga tidak mengherankan jenis tanaman langka ini dilindungi undang-undang. Namun demikian bukan berarti terlarang untuk memeliharanya, ia dapat diperjualbelikan bila jumlahnya banyak dan berasal dari hasil budidaya.
Di Tanah Air, permintaan akan tanaman unik ini terus meningkat, khususnya tanaman karnivora anggota famili Nepenthaceae, yang kondang disebut "kantong semar" atau "periuk monyet". Tanaman liar dari hutan-hutan kerangas dan rawa-rawa hutan tropis ini populer untuk dijadikan tanaman hias. Para kolektor, hobiis, dan penangkar berlomba memburu Nepenthes ini.
Lain di tanah air, lain pula di luar negeri, di Amerika Serikat dan Eropa, penggemar kantong semar ini sudah tak terhitung jumlahnya, perkembangan budidayanya pun sudah sedemikian majunya, bahkan di Belanda sudah dikembangkan dalam skala industri yang mampu menyumbang devisa bagi Negeri Tulip ini. Ironisnya, sorok raja mantri --sebutan nepenthes di Jawa Barat-- ini kebanyakan berasal dari Indonesia, terutama dari Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Jangan salah 65% nepenthes dunia ada di Indonesia.
Meledaknya permintaan kantung semar, selain menjadi berkah bagi para penangkar dengan mengalirnya fulus, juga sekaligus sebagai wadah konservasi, sehingga bila spesies ini punah di alam liar, masih ada plasma nutfahnya di penangkar, hobiis, dan kolektor.
Periuk monyek atau Nepenthes relatif mudah memeliharanya. Mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Media cocopeat dicampur sekam bakar dalam pot plastik sudah cukup untuk menumbuhkan pemangsa serangga ini. Sementara perbanyakan bisa dilakukan dengan cara stek batang, biji, dan kultur jaringan.
Sosok pitcher plant dengan kantong-kantongnya yang khas, ditambah pertunjukan "horor" menjerat serangga dengan kantong-kantongnya menjadi daya tarik tersendiri bagi penggilanya. Tidaklah berlebihan bila harga tanaman eksotik ini dalam setiap pameran relatif masih mahal, harganya mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 150.000 per potnya tergantung ukuran dan kondisi tanaman. Sebut saja Nepenthes rajah dari Pontianak berkantung superbesar dihargai Rp 100.000 per pot.
Tanaman Karnivora, "Pembunuh yang Efisien"

TANAMAN memakan binatang, kedengarannya begitu ganjil. Dalam hirarki ekosistem; tumbuhan biasanya dimakan oleh hewan herbivora, dan hewan herbivora kemudian dimangsa hewan karnivora. Keberadaan tanaman pemakan binatang telah melanggar rantai makanan tersebut, ia memperpendek daur hidup itu. Memang berbagai fungsi yang dikembangkan tanaman karnivora tampaknya mirip binatang, seperti gerakan menjebak dengan cepat, sensitivitas seperti sistem saraf, dan umpan untuk memikat korbannya.
Walaupun tanaman karnivora termasuk spesies predator yang mampu menjebak, membunuh dan mencerna korbannya, jangan membayangkan sebagai monster pemakan manusia, seperti digambarkan dalam film-film fiksi ilmiah. Beberapa pitcher plant ini mungkin cukup besar untuk menjerat ampibi kecil bahkan burung, namun umumnya menu utamanya adalah serangga.
Kelompok yang relatif kecil dari tanaman berbunga (angiosperma) ini dikenal juga sebagai tanaman insektivora atau pemakan serangga. Saat ini diketahui ada 590 spesies tanaman karnivora yang diketahui di dunia. Beberapa spesies tumbuh tersebar di semua benua, sementara lainnya menempati kawasan sempit dan terbatas.
Keunikan dari tanaman pemangsa ini terletak pada metode menjerat korban yang bervariasi di antara berbagai spesies, namun pada dasarnya berupa daun yang dimodifikasi. Ada jebakan berupa lubang (pitfall) berisi cairan pencerna, prinsipnya korban jatuh ke dalam lubang karena terpeleset dan mati. Jebakan pasif ini dimiliki oleh tanaman pemangsa tropis di antaranya Nepenthes yang lebih dikenal sebagai "kantong semar", kemudian Sarracenia, Darlingtonia, Cephalotus, dan banyak lagi.
Metode jebakan lengket dimiliki oleh tanaman semacam embun matahari (Drosera), butterwort (Pinguicula), Drosophyllum, Byblis, Triphyophyllum, Roridula, dan Ibicella. Beberapa spesies tanaman ini menutupi daun-daunnya dengan rambut-rambut yang ujungnya mengandung lem. Di bawah sinar matahari, tetesan lem ini berkilauan mirip tetesan embun, yang mampu menarik serangga untuk hinggap di sana. Lain lagi dengan sistem jebakan isap yang dimiliki beberapa spesies akuatik, seperti bladderwort (Utricularia), Biovularia, Polypompholyx. Tanaman air ini dilengkapi dengan semacam gelembung-gelembung yang memiliki pintu-pintu yang bisa mengisap hewan-hewan air kecil yang menyentuhnya.
Salah satu jebakan aktif yang paling dikenal adalah snap trap yang dilakukan Venus' flytrap (Dionaea muscipula). Ketika selembar rambutnya disentuh seekor serangga, kedua bilah daun bergeriginya akan menutup dan mengurung korbannya. Kemudian enzim-enzim pencernaan dari kelenjar di permukaan daun tersebut menguraikan protein korbannya yang terjebak itu, dan tumbuhan ini mendapat sumber makanan tambahan dalam bentuk nitrogen.
Tanaman karnivora mencerna korbannya lewat proses penguraian kimia mirip sistem pencernaan pada hewan, juga dibantu bakteri dari luar. Produk akhir, terutama senyawa nitrogen dan garam-garam, diserap oleh tumbuhan. Tumbuhan karnivora sesungguhnya adalah tanaman hijau juga yang memproduksi makanannya dengan cara fotosintesis. Adaptasi mereka untuk mencerna protein hewan, adalah mekanisme bertahan (survive) di bawah kondisi lingkungan yang tidak ramah seperti media tanah yang kekurangan unsur hara.
Tumbuhan karnivora membuktikan pada kita, tidak perlu otak dan gerakan lincah untuk menjadi pembunuh yang efisien. Mereka telah menjadi pemburu yang licik, tidak mengandalkan pada kekuatan tetapi pada umpan universal yaitu kecantikan dan hasrat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar